Buku Diary
Hari ke-enam Cerita
Dari Kamar
Kata siapa menulis diary itu kekanak-kanakan? Menulis diary
itu termasuk terapi psikologi lho, yah kan kita menuang apa yang sedang kita
rasakan ke dalam sebuah tulisan dan sedikit banyak dapat mempengaruhi mood yang
kita rasa.
Contoh nih kalo lagi galau, coba tulis semua yang kamu
rasain. Pasti rasa galau itu tadi akan sedikit reda. Yah walaupun buku diary
nggak pernah ngasi solusi atau menjawab pertanyaan kita, setidaknya dia selalu
ada dan akan selalu menampung semua cerita kita.
Buku diary berwarna kuning ini adalah kado ulang tahun-ku
yang ke 14 dari sahabat-sahabatku, sewaktu masih duduk di bangku SMP. Aku
senang sekali, they really knew what I need.
Mereka tahu banget kalo aku hobi menulis diary.
Sekarang sudah hampir 5 tahun sejak ulang tahunku itu, dan
buku diary ini masih memiliki ratusan halaman kosong yang belum aku sentuh.
Buku ini sangat tebal hingga ceritaku selama 5 tahun pun masih belum mampu
menghabiskannya. Disini tersimpan ratusan cerita yang sebagian besar memang aku
simpan untukku sendiri. Tentang cinta, hidup dan mimpi.
Lucu rasanya saat membaca buku diary ini dari awal hingga
halaman terakhir yang sudah kutulis. Lucu bagaimana hidup bisa berubah dari
waktu ke waktu. Membacanya seperti menciptakan flashback di kepalaku, kejadian sejak 5 tahun lalu sampai saat ini.
Banyak hal berubah, banyak hal terlupakan, juga banyak hal datang menggantikan
yang lama.
Selalu ada hal untuk direnungi setelah membaca ulang dari
awal; seharusnya tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama untuk membuat kita
jera.