Saat itu di suatu sore, kita berdua sedang dalam perjalanan ke rumahku. Satu tanganku melingkar di perutmu, dan kusandarkan daguku di pundak kirimu. Aku suka ini, aku bisa melihat wajahmu dari kaca spion kiri di motormu.
Waktu itu tanggal 28, ya.. tanggal jadian kita. Saat itu kamu bertanya : "Kita udah berapa bulan sih?". Aku merasa sedikit jengkel karena aku pikir kamu lupa, tapi sepertinya kamu cuma ngetes aja.. (ya kan?).
Tiba-tiba kamu tanya lagi, "Kamu maunya sampe berapa bulan?"
Ah pertanyaan ini.. Aku bisa aja langsung jawab "Selamanya dong !" tanpa ragu.
Tapi entah kenapa aku pikir kalau aku jawab seperti itu, nanti kamu kira aku nggombal dan cuma omong doang. Jadi dengan menahan senyum dan menyembunyikan muka di pundakmu, aku menjawab seadanya dan sekenanya : "Sampe seterusnya lah.. Ngapain juga direncanain?" aku nggak tahu harus jawab apa lagi waktu itu.
Setengah kewalahan mau jawab apa lagi, aku malah balik tanya ke kamu : "Kalo kamu maunya sampe berapa bulan?". Aku nggak mengharapkan jawaban yang romantis seperti di film atau novel yang selalu menggunakan kata "Selamanya".
Sebuah kata selamanya , bagiku sakral. Selamanya berarti : aku bersedia mendampingi kamu apapun yang terjadi, menjagamu, mencintaimu dan bersamamu untuk detik ini , detik berikutnya hingga detik-detik terakhir hidupku.
Karena itu, aku kadang merasa ragu dengan orang yang mengucap "selamanya" begitu mudah..
Tapi sore itu kamu menjawab dengan suaramu yang pelan dan kesannya seperti sedikit malu terhadap jawabanmu sendiri.. "Aku maunya sih selama-lamanya.."
Rasanya ? Seperti mengambang di air yang sejuk ditengah hari yang terik..
Aku hanya tertawa, merasa senang dan juga malu. Aku menenggelamkan wajahku di jaketmu dan merapatkan pelukanku.
Uh, adakah yang lebih indah? Yang lebih indah daripada rasa nyaman , disayangi dan diinginkan untuk selamanya?
Semoga Tuhan mendengar dan mengabulkannya untuk kita :))