Yang tak sempat terucap semalam :)
Tanganku menggenggam tanganmu, pandanganku mengarah ke ratusan penonton yang menyemut di lantai bawah.
Kala itu pikiranku melayang jauh, tidak pada band di panggung yang sedang memainkan lagu.
Aku tidak sadar bahwa bibirku menyunggingkan senyum dan tiba-tiba k bertanya : "Kenapa senyum-senyum sendiri?"
Aku hanya tertawa menutupi kegugupan yang datang mendadak. Aku bilang : "Nggak bukan apa-apa kok hehe."
Bukan dirimu jika kamu tidak merasa penasaran, kamu bertanya berkali-kali apa yang sedang aku pikirkan tapi tentu saja aku tidak menjawabnya..
Aku....hanya tidak pandai menyuarakan apa yang kupikirkan.
Aku kira kamu akan melupakannya, jadi aku meraih tanganmu lagi hendak menggenggamnya.
Tapi kamu menepis tanganku dan beringsut menjauh beberapa senti dari tempat dudukmu.
Tak mau kalah, aku berusaha meraih tanganmu lagi, ujung jaket jeans mu atau lenganmu.
Tapi kamu dan rasa penasaranmu tetap keras kepala, kamu terus mengulang pertanyaanmu : apa yang membuatku tersenyum tadi.
Aku tetap tak menjawab , aku hanya menggeleng dan tertawa malu sambil tetap menggapai-gapai tanganmu.
Sampai akhirnya aku menyerah dan mengaku. Aku malu entah kenapa, jadi aku tak berani menatap matamu dan hanya menutup wajahku dengan kedua tanganku.
Sambil memeluk sebelah tanganmu, aku bersembunyi di balik bahumu sambil berkata : "Aku tadi lagi ngeliatin kamu, terus tiba-tiba kepikiran : kok bisa ya kamu sayang aku?" tentu saja dengan diselai tawa malu-malu ku.
Usai mengaku, aku menutup wajahku dan menyembunyikannya dibalik lututku.
Kamu tertawa dan menjawab : "Ya kalo sayang, ih sok tau kamu."
Aku mengerucutkan bibir ambil menatapmu , "Jadi selama ini aku salah?" aku mengucapkannya dengan nada ingin menangis yang kubuat-buat.
Lalu kamu kembali tertawa dan bilang : "Love you."
Aku tersenyum lebar dan menjawab "Love you too." dengan nada ceria sambil mengecup bahu kanan mu.
Aku tau aku tidak mengucapkan semuanya. Pengecut ? Mungkin iya. Aku terlalu malu untuk mengatakan semuanya, aku takut terlihat lemah didepanmu. Entah kenapa...
Saat itu aku sedang memperhatikan wajah kamu, mata, hidung, hingga bibirmu. Ya, aku mengagumi semuanya dan aku bersyukur aku bisa menyebutmu kepunyaanku.
Lalu ada pertanyaan yang hinggap di kepalaku:
Bagaimana bisa aku yang seperti ini menjadi apa yang sangat dia sayang ? Apa yang dilihatnya dariku ?
Bagaimana bisa dia begitu ingin melindungiku ?
Saat itu aku berkata dalam hati : "Ya Tuhan, anak ganteng ini sayang sama aku lho. Dia nggenggem tanganku didepan orang-orang tanpa ngerasa risih atau malu."
Belum sempat aku melanjutkan pikiran-pikiranku, kamu sudah menyadari lebih dulu bahwa aku tersenyum tanpa sadar...
Bagaimana aku bisa mengatakan semuanya?
Ah yang penting kamu tahu, aku menyayangimu dan bagiku kamu adalah sebagian dari anugerah Tuhan untuk hidupku.
Kala itu pikiranku melayang jauh, tidak pada band di panggung yang sedang memainkan lagu.
Aku tidak sadar bahwa bibirku menyunggingkan senyum dan tiba-tiba k bertanya : "Kenapa senyum-senyum sendiri?"
Aku hanya tertawa menutupi kegugupan yang datang mendadak. Aku bilang : "Nggak bukan apa-apa kok hehe."
Bukan dirimu jika kamu tidak merasa penasaran, kamu bertanya berkali-kali apa yang sedang aku pikirkan tapi tentu saja aku tidak menjawabnya..
Aku....hanya tidak pandai menyuarakan apa yang kupikirkan.
Aku kira kamu akan melupakannya, jadi aku meraih tanganmu lagi hendak menggenggamnya.
Tapi kamu menepis tanganku dan beringsut menjauh beberapa senti dari tempat dudukmu.
Tak mau kalah, aku berusaha meraih tanganmu lagi, ujung jaket jeans mu atau lenganmu.
Tapi kamu dan rasa penasaranmu tetap keras kepala, kamu terus mengulang pertanyaanmu : apa yang membuatku tersenyum tadi.
Aku tetap tak menjawab , aku hanya menggeleng dan tertawa malu sambil tetap menggapai-gapai tanganmu.
Sampai akhirnya aku menyerah dan mengaku. Aku malu entah kenapa, jadi aku tak berani menatap matamu dan hanya menutup wajahku dengan kedua tanganku.
Sambil memeluk sebelah tanganmu, aku bersembunyi di balik bahumu sambil berkata : "Aku tadi lagi ngeliatin kamu, terus tiba-tiba kepikiran : kok bisa ya kamu sayang aku?" tentu saja dengan diselai tawa malu-malu ku.
Usai mengaku, aku menutup wajahku dan menyembunyikannya dibalik lututku.
Kamu tertawa dan menjawab : "Ya kalo sayang, ih sok tau kamu."
Aku mengerucutkan bibir ambil menatapmu , "Jadi selama ini aku salah?" aku mengucapkannya dengan nada ingin menangis yang kubuat-buat.
Lalu kamu kembali tertawa dan bilang : "Love you."
Aku tersenyum lebar dan menjawab "Love you too." dengan nada ceria sambil mengecup bahu kanan mu.
Aku tau aku tidak mengucapkan semuanya. Pengecut ? Mungkin iya. Aku terlalu malu untuk mengatakan semuanya, aku takut terlihat lemah didepanmu. Entah kenapa...
Saat itu aku sedang memperhatikan wajah kamu, mata, hidung, hingga bibirmu. Ya, aku mengagumi semuanya dan aku bersyukur aku bisa menyebutmu kepunyaanku.
Lalu ada pertanyaan yang hinggap di kepalaku:
Bagaimana bisa aku yang seperti ini menjadi apa yang sangat dia sayang ? Apa yang dilihatnya dariku ?
Bagaimana bisa dia begitu ingin melindungiku ?
Saat itu aku berkata dalam hati : "Ya Tuhan, anak ganteng ini sayang sama aku lho. Dia nggenggem tanganku didepan orang-orang tanpa ngerasa risih atau malu."
Belum sempat aku melanjutkan pikiran-pikiranku, kamu sudah menyadari lebih dulu bahwa aku tersenyum tanpa sadar...
Bagaimana aku bisa mengatakan semuanya?
Ah yang penting kamu tahu, aku menyayangimu dan bagiku kamu adalah sebagian dari anugerah Tuhan untuk hidupku.